BANDUNG, VOOSTRA - Gue jujur agak senyum pas nulis ini. Banyak orang mikir kalau pajak itu harus dipaksa, ditekan, bahkan ditakut-takuti biar orang bayar. Tapi Dedi Mulyadi malah ngelakuin kebalikannya. Dia kasih diskon. Cuma 10 persen. Kelihatannya kecil. Tapi timing-nya… itu yang nggak semua pemimpin kepikiran.
Coba lo bayangin. Lebaran. Orang lagi pegang duit. THR cair. Belanja jalan. Daya beli lagi naik. Di momen kayak gitu, orang lagi “lega napasnya”. Nah, di situ KDM masuk. Nggak maksa, nggak ngejar-ngejar. Cuma bilang, “yaudah, kita kasih keringanan.” Hasilnya? Pendapatan malah naik sampai 3 kali lipat.
Di situ gue langsung keinget peribahasa Sunda: “ulah ngalawan arus, tapi ngamangpaatkeun arus”. Jangan lawan arus, tapi manfaatin arus. Ini bukan soal diskon doang, tapi soal baca momentum. Orang lagi mampu, ya dipermudah. Bukan dipersulit.
Dan yang menarik, ini juga ngebuktiin satu hal: masyarakat itu sebenernya mau taat. Mau bayar. Asal sistemnya masuk akal dan nggak nyusahin. Ada pepatah Sunda yang pas banget: “lemes cai, tapi bisa nembus batu”. Air itu lembut, tapi justru bisa nembus yang keras. Pendekatan halus seringkali lebih kuat dari tekanan.
Setelah itu KDM juga nggak muter-muter. Duitnya mau dipakai buat apa, jelas: jalan. Infrastruktur. Hal yang langsung kerasa. Nggak abstrak. Nggak jauh dari kehidupan sehari-hari. Dan dia ngomongnya juga simpel: “minggu depan gaspol lagi bangun jalan.” Nggak ribet, tapi kena.
Gue juga suka satu bagian ini. Dia bilang kritik itu “obat pahit”. Nggak semua pemimpin kuat minum itu. Banyak yang alergi kritik, dikit-dikit baper. Tapi di sini justru diterima. Ada peribahasa Sunda yang ngena banget: “nu ngingetan lain musuh, tapi dulur nu nyaah”—yang ngingetin itu bukan musuh, tapi orang yang peduli.
Jadi kalau ditarik garis besarnya, ini bukan sekadar kebijakan diskon pajak. Ini soal cara mikir. Cara baca situasi. Cara memperlakukan masyarakat bukan sebagai objek yang harus dipaksa, tapi sebagai partner yang diajak.
Dan jujur aja, kalau pendekatannya kayak gini terus, ya wajar kalau hasilnya beda. Karena kadang yang bikin kebijakan berhasil itu bukan besar kecil angkanya… tapi tepat nggaknya cara mainnya.



Posting Komentar