MAKKAH, VOOSTRA - Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, dikenal sebagai pusat ibadah umat Islam terbesar di dunia. Di balik kemegahan dan kenyamanan yang dirasakan jutaan jemaah setiap hari, tersimpan biaya operasional yang sangat besar, khususnya untuk kebutuhan listrik yang mencapai miliaran rupiah per hari.
Sebagai lokasi berdirinya Ka'bah—arah kiblat umat Islam di seluruh dunia—Masjidil Haram tidak pernah sepi dari aktivitas. Setiap waktu, baik siang maupun malam, kawasan ini dipadati jemaah yang melaksanakan berbagai ibadah seperti salat berjamaah dan tawaf. Intensitas aktivitas yang berlangsung tanpa henti selama 24 jam menjadikan masjid ini beroperasi layaknya sebuah kota kecil yang hidup sepanjang waktu.
Untuk menunjang kenyamanan para pengunjung, Masjidil Haram dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern berbasis teknologi tinggi. Sistem pencahayaan, misalnya, menggunakan puluhan ribu lampu yang mampu menerangi seluruh area sehingga tetap terang meski pada malam hari. Selain itu, suhu panas ekstrem di Makkah diatasi dengan sistem pendingin udara berkapasitas besar yang bekerja tanpa jeda.
Tak hanya itu, suara imam disalurkan melalui ribuan pengeras suara agar dapat terdengar jelas hingga ke seluruh penjuru masjid. Fasilitas lain seperti eskalator, lift, kamera pengawas, hingga sistem ventilasi dan penyemprot kabut turut beroperasi secara simultan demi menjaga kenyamanan, keamanan, serta kualitas udara bagi para jemaah.
Dengan skala operasional sebesar itu, kebutuhan energi listrik Masjidil Haram sangat tinggi. Konsumsi listriknya diperkirakan mencapai sekitar 100 megavolt ampere (MVA) per hari, jumlah yang setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota berukuran kecil.
Dari sisi biaya, pengeluaran listrik Masjidil Haram mencapai sekitar 15 juta riyal Saudi setiap bulan, atau setara dengan sekitar Rp66 hingga Rp67 miliar. Jika dirata-ratakan, biaya tersebut berkisar Rp2,2 miliar per hari. Angka ini menunjukkan besarnya investasi yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan operasional masjid terbesar di dunia tersebut.
Berbagai perangkat listrik yang digunakan pun tidak sedikit. Tercatat ada sekitar 120 ribu lampu, sistem pendingin udara dengan kapasitas mencapai 155 ribu ton, sekitar 8 ribu pengeras suara, serta ratusan eskalator dan lift yang tersebar di seluruh area. Selain itu, ribuan kamera CCTV dan sistem pengatur sirkulasi udara juga menjadi bagian penting dari infrastruktur modern Masjidil Haram.
Besarnya biaya listrik yang dikeluarkan setiap hari mencerminkan kompleksitas pengelolaan Masjidil Haram sebagai pusat ibadah global. Lebih dari sekadar tempat suci, kawasan ini menjadi simbol pelayanan bagi umat Islam di seluruh dunia, dengan fasilitas yang terus dijaga agar mampu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi setiap jemaah yang datang.




Posting Komentar