LEBANON, VOOSTRA - Seorang jurnalis yang bertugas di garis depan konflik di Lebanon Selatan menyampaikan pesan kuat tentang peran media di tengah perang—beberapa waktu sebelum ia dilaporkan tewas dalam serangan udara.
Dalam sebuah video yang beredar luas, jurnalis perempuan dari Al-Mayadeen terlihat berdiri di tengah reruntuhan bangunan di wilayah Hasbaya. Ia menunjukkan rompi pelindung dan helmnya yang rusak, lalu mengangkat mikrofon sambil menyebutnya sebagai satu-satunya “senjata” yang ia miliki.
“Ini adalah yang tersisa dari rompi pelindung dan helm saya. Dan ini ‘senjata’ kami,” ujarnya.
“Apakah kami punya senjata lain? Mungkin mikrofon ini yang menyakiti mereka—dan memang begitulah kenyataannya.”
Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus menyampaikan realitas di lapangan kepada dunia, meski berada dalam risiko tinggi.
Tak lama setelah pernyataan tersebut beredar, laporan dari sejumlah media internasional menyebutkan bahwa jurnalis Al-Mayadeen, Fatima Ftouni, tewas dalam serangan udara di Lebanon Selatan pada 28 Maret 2026. Ia berada dalam satu kendaraan bersama jurnalis lain, termasuk Ali Shuaib dari Al-Manar, ketika kendaraan tersebut menjadi sasaran serangan.
Serangan itu terjadi di wilayah selatan Lebanon, kawasan yang kerap menjadi titik ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata di perbatasan.
Pihak Israel mengakui telah menargetkan salah satu individu dalam kendaraan tersebut, namun menyebut targetnya terkait dengan kelompok militan. Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai korban lainnya dalam insiden tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi jurnalis di zona konflik. Organisasi internasional berulang kali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pekerja media, yang menjalankan tugas untuk menyampaikan informasi dari wilayah berbahaya kepada publik global.
Meski demikian, bagi sebagian jurnalis, mikrofon tetap menjadi “senjata” utama—alat untuk melawan dengan kebenaran di tengah peperangan.



Posting Komentar