VOOSTRA
VOOSTRA
Akurat Tanpa Bising, Tajam Tanpa Bias

"Kacang Goreng" di Balik Jeruji: Mengapa Kepala Rutan Selalu Lolos dari Jerat Pidana?

OPINI & ANALISIS, VOOSTRA – Pengakuan Ammar Zoni dalam pleidoinya, Kamis (2/4/2026) kemarin, bak petir di siang bolong bagi publik, namun hanya dianggap angin lalu oleh para pengamat hukum. Menyebut Rutan Salemba sebagai tempat di mana narkoba dijual semudah "kacang goreng" adalah rahasia paling telanjang yang telah puluhan tahun dipelihara oleh sistem pemasyarakatan kita.

​Namun, ada satu pertanyaan krusial yang menggantung di udara: Mengapa para penguasa rutan tidak pernah ikut memakai rompi oranye saat barang haram itu membanjiri sel mereka?

​Mari kita bedah anatomi "pertahanan diri" birokrasi penjara di atas meja forensik.

​1. Ritual "Tamparan Lembut" (The Wrist Slap)

​Sejarah mencatat bahwa ketika skandal narkoba di rutan meledak, hukuman bagi pejabat hanya berhenti di level administratif. Pada Oktober 2025, saat kasus Ammar memuncak hingga ia "dibuang" ke Nusakambangan, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) memang memberikan sanksi.

​Namun, sanksi itu hanyalah rotasi atau "pendidikan ulang". Secara hukum, mereka dianggap lengah, bukan terlibat. Di mata hukum, ada jurang lebar antara "tidak becus menjaga pintu" dengan "menjadi bagian dari sindikat". Selama bukti aliran dana tidak ditemukan—atau sengaja tidak dicari—Kepala Rutan akan selalu aman di balik meja kerjanya.

​2. Narasi Pahlawan di Atas Lubang Bocor

​Ini adalah strategi Plausible Deniability (Penyangkalan Masuk Akal) yang brilian. Saat Ammar Zoni tertangkap menyimpan ganja dan sabu hasil razia internal, Karutan Salemba dengan sigap tampil di depan kamera.

​Logika Forensiknya: Dengan melaporkan tangkapan tersebut, pihak rutan berhasil mencuci tangan. Mereka memosisikan diri sebagai pahlawan yang melakukan "deteksi dini". Namun, mereka gagal (atau enggan) menjawab pertanyaan paling dasar: Bagaimana barang itu bisa menembus pintu berlapis, mesin X-Ray, dan penjagaan ketat? Alibi klasiknya selalu sama: "Penyelundupan oleh pengunjung di jam besuk yang padat." Sebuah alasan usang untuk menutupi fakta bahwa mustahil ada barang masuk tanpa "lampu hijau" dari dalam.

​3. Ekonomi Pasar Gelap (The Captive Market)

​Rutan bukan sekadar tempat penahanan, melainkan pasar monopoli tertutup. Di sana, hukum ekonomi berlaku absolut. Narkoba tidak bisa masuk tanpa "pajak pintu"—uang pelicin bagi oknum penjaga.

​Ammar Zoni adalah komoditas sempurna: figur publik, pecandu, dan punya uang. Mengorbankan Ammar dengan tuntutan 9 tahun penjara adalah langkah strategis sistem untuk terlihat garang di mata publik. Sembari "sang artis" dijadikan contoh ketegasan, sindikat pasokan untuk ribuan narapidana anonim lainnya tetap berputar tenang di bawah radar.

​Kesimpulan: Rumah Reproduksi Kejahatan

​Sel penjara kita hari ini tampaknya tidak dirancang untuk merehabilitasi, melainkan untuk memeras. Sistem ini memosisikan oknum penjaga sebagai pemegang kunci pasokan.

​Kasus Ammar Zoni telah menelanjangi kerapuhan jargon "Zero Halinar" (Handphone, Pungli, Narkoba). Selama pejabat lapas terus berlindung di balik dalih "keterbatasan personel" dan hanya menerima sanksi mutasi, maka penjara akan tetap menjadi tempat di mana kejahatan tidak dihentikan, melainkan diproduksi ulang dengan manajemen yang lebih rapi.

​Narkoba semudah kacang goreng? Mungkin karena penjualnya memegang kunci selnya.

Posting Komentar

Punggawa Network
Hari ini
Loading...