IKN, VOOSTRA - Ada alasan kenapa makanan tradisional sering terasa lebih ngangenin daripada makanan viral. Bukan karena makanan baru selalu kalah enak, dan bukan juga karena orang Indonesia hobi meromantisasi masa lalu tanpa alasan. Masalahnya, makanan tradisional hampir tidak pernah datang sendirian. Ia datang membawa suara dapur, bau kayu atau kompor, tangan ibu yang sibuk, meja makan sederhana, suasana sore, momen pulang sekolah, musim hujan, acara keluarga, dan rasa aman yang dulu mungkin tidak disadari saat masih menjalaninya. Makanan viral biasanya menang di kejutan, tampilan, dan rasa penasaran. Makanan tradisional menang di ingatan. Itu sebabnya satu suapan sayur lodeh, nasi jagung, tiwul, tempe goreng, atau ketan kukus kadang bisa bikin hati mendadak melambat, padahal bumbunya tidak selalu rumit. Jadi yang dicari lidah sebenarnya bukan hanya rasa, tetapi rasa yang pernah hidup bersama suasana. Makanan viral sering sibuk mengejar kamera, sementara makanan tradisional diam-diam sudah lebih dulu menetap di kepala dan perasaan.
Penjelasan ini ternyata tidak cuma terdengar puitis, tetapi juga punya pijakan ilmiah. Studi tentang food-evoked nostalgia yang terindeks di PubMed menyebut bahwa makanan adalah pemicu nostalgia yang kuat, dan nostalgia yang dipicu makanan cenderung menjadi pengalaman emosional yang dominan positif, sekaligus berkaitan dengan afek positif, harga diri, keterhubungan sosial, dan makna hidup. Studi lain di PubMed juga menemukan bahwa nostalgia makanan dapat meningkatkan rasa nyaman karena memperkuat social connectedness, atau perasaan terhubung dengan orang lain. Dengan kata lain, makanan tertentu terasa menghibur bukan hanya karena enak, tetapi karena ia menghubungkan seseorang dengan masa lalu yang hangat, dengan orang-orang yang pernah hadir, dan dengan versi diri yang mungkin lebih sederhana. Jadi ketika seseorang bilang masakan rumahan lebih mengena daripada makanan viral, itu bukan sekadar sentimentil. Ada kerja memori dan emosi di sana. Makanan tradisional sering membawa pulang manusia pada relasi, bukan cuma pada rasa. Itu sebabnya semangkuk bubur kacang hijau buatan rumah kadang bisa terasa lebih penuh daripada dessert cantik yang tampilannya rapi tapi jiwanya kosong.
Yang membuat makanan tradisional makin kuat adalah karena ia tumbuh sebagai bagian dari warisan budaya hidup, bukan sekadar produk yang diciptakan untuk menang tren. UNESCO menegaskan bahwa praktik kuliner tradisional, baik yang terkait kehidupan sehari-hari maupun perayaan dan ritual, merupakan bagian penting dari intangible cultural heritage, dan pada 2025 UNESCO menulis bahwa sudah ada sekitar lima puluh praktik kuliner tradisional yang masuk daftar warisan budaya takbenda mereka. Dalam kabar UNESCO awal 2025 juga disebutkan bahwa pada sidang 2024 saja ada sepuluh elemen foodways-related heritage yang ditambahkan ke daftar tersebut. Ini penting, karena berarti makanan tradisional memang diakui dunia bukan sekadar sebagai benda yang dimakan, tetapi sebagai pembawa identitas, kebiasaan, nilai, dan ingatan kolektif. Jadi ketika makanan tradisional terasa lebih ngangenin, itu juga karena ia tidak berdiri sebagai barang konsumsi semata. Ia membawa jejak keluarga, kampung, daerah, bahkan ritme hidup sebuah masyarakat. Makanan viral biasanya lahir untuk cepat menarik perhatian. Makanan tradisional lahir dari pengulangan panjang, diwariskan dari tangan ke tangan, dan itulah sebabnya ia terasa lebih dalam. Yang satu dirancang untuk meledak cepat. Yang satu tumbuh pelan sampai menjadi bagian dari siapa kita.
Di sinilah bedanya menjadi terasa makin jelas. Makanan viral biasanya bertumpu pada sensasi. Ia kuat di awal karena orang penasaran, tampilan baru, namanya unik, atau cara makannya bisa dijadikan konten. Tidak ada yang salah dengan itu. Dunia memang selalu punya ruang untuk hal-hal baru. Tetapi makanan semacam ini sering kali hidup dari momentum, bukan dari kedalaman pengalaman. Begitu tren lewat, orang pun pindah ke tren berikutnya. Sementara makanan tradisional justru sering tidak heboh di permukaan, tetapi sangat kuat di dalam. Ia tidak selalu fotogenik, tidak selalu punya nama yang mewah, tidak selalu dibungkus dengan cerita pemasaran yang agresif, tapi ia punya sesuatu yang jauh lebih sulit diciptakan secara instan, yaitu ikatan emosional. Penelitian di PMC tentang pengaruh kenangan makan masa lalu juga menunjukkan bahwa memori tentang pengalaman makan dapat mempengaruhi keadaan emosional seseorang dan membentuk sikap terhadap makanan. Jadi, ketika seseorang lebih rindu sayur asem buatan rumah daripada menu viral yang sedang ramai, itu masuk akal. Karena rasa lapar bisa dipenuhi banyak hal, tetapi rasa rindu hanya bisa disentuh oleh sesuatu yang pernah hidup bersama kenangan. Dan sayangnya, kenangan tidak bisa digoreng dadakan untuk kebutuhan promosi mingguan.
Pada akhirnya, makanan tradisional terasa lebih ngangenin karena ia tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan bagian-bagian hidup yang tidak selalu bisa dijelaskan. Ia membawa pulang seseorang kepada rumah, kepada keluarga, kepada masa ketika kebahagiaan mungkin lebih sederhana. Ilmu psikologi memberi penjelasan bahwa makanan memang bisa memicu nostalgia dan memperkuat rasa keterhubungan. UNESCO memberi pengakuan bahwa makanan tradisional memang bagian dari warisan budaya hidup. Jadi rasa rindu pada makanan tradisional bukan kelemahan, bukan pula sekadar kebiasaan orang yang susah move on dari masa lalu. Itu justru tanda bahwa makanan pernah menjadi tempat manusia menyimpan kasih sayang, identitas, dan rasa aman. Maka tidak heran kalau makanan viral sering bikin penasaran, tetapi makanan tradisional lebih sering bikin orang pulang diam-diam ke dalam dirinya sendiri. Dan mungkin itu sebabnya makanan tradisional jarang benar-benar kalah. Ia mungkin tidak selalu ramai di layar, tetapi ia tetap menang di tempat yang lebih sunyi, yaitu di ingatan orang-orang yang pernah tumbuh bersamanya.




Posting Komentar